“Hai
langit!” Kamu datang, rupanya bawa teman; hujan.
Sudah lama aku tidak sadar akan keberadaannya.
Hujan yang selama ini aku puja, sempat tersisihkan karena pikiranku tersita
oleh sesuatu. Walaupun komponen itu tetap ada, tetap saja separuh pikiranku;
untukmu.
Aku sempat bersyukur, saat kita
bertemu, hujan selalu hadir disela – sela kita. Mendinginkan tangan yang saling
tak menghangatkan. Lambat laun, keadaan menghancurkan kita. Pertemuan semakin
berjumlah jarang akibatnya. Kita dibuat jauh, dan tak punya waktu bersama.
Entah ini salah siapa, aku tak bisa
menyalahkan salah satu dari kita. Mau menyalahkan keadaan? Dia bisa apa? Dia
hanya datang secara tak disengaja. Walau kadang ada keadaan yang disengaja,
tapi hal itu tak termasuk hitungan. Lalu, mau menyalahkan tuhan? Aku bisa
dikutuk olehnya. Sudah diberi karunia, masih mengeluh saja.
Keadaan makin menjauhkan kita, aku
yang terlalu cepat menyerah dan marah, semakin terhasut olehnya. Dan untuk
semua itu, kamu yang jadi korbannya. Kali ini aku baru sadar, bahwa penyesalan
memang datangnya belakangan.
Penyesalanku begitu besar, sampai –
sampai aku harus merelakanmu pergi dibawa keadaan itu. Tanpa bisa apa – apa,
aku hanya meratapi dan meratapi lagi, hasil perbuatanku sendiri.
Rasanya pahit juga, dipisahkan
ketika sedang sayang – sayangnya. Bukan sayang yang berdasarkan pelukan, atau
ciuman. Tapi yang dari hati, walau aku belum terlalu mengerti apa itu cinta
sejati.
Hah.. Tulisan ini makin dibiarkan malah makin memperlihatkan bahwa aku
tua, yasudah, kali ini aku sudahi saja. Diawali dengan perkenalan, pacaran,
lalu perpisahan, aku meminta maaf sebesar yang aku bisa, atas perbuatanku yang
menjadikanmu korban kemarahanku. Dan aku harap masih akan ada ‘pengulangan’
setelah kamu diberikan waktu istirahat oleh tuhan.
0 comments:
Post a Comment