Malam
ini hujan rintik – rintik kali ini. Aku sedang melakukan giliran atau mungkin
kegiatanku dalam menunggu. Sengaja aku biarkan untuk menunggu dibawah lampu
kota, yang warnanya remang – remang romantis menurutku.
Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Tiga puluh
menit berlalu.. kita belum sampai pada titik temu. Tak pernah terpikirkan
sekalipun, aku habiskan tiga puluh menitku untuk sekedar menunggu (dalam
konteks sebenarnya).
Sampai
pada akhirnya, entah di menit ke berapa titik temu mulai mempertemukan kita.
Kamu datang dari arah belakang dan aku melihatnya. Sesegera aku siapkan segala
yang terbaik, untuk melihat reaksimu kala itu. Aku memutuskan untuk menyimpanya
di kantong jaket sebelah kiri ku, niatnya jika reaksinya sesuai dengan yang
diharapkan, aku akan langsung memberikan. Tapi, perkiraanku selalu salah. Dia
yang nampak biasa, malah bertanya “sedang apa disini?” sedikit tersenyum tak
puas aku melanjutkan alasanku yang entah darimana datangnya, yang sama sekali
tak punya titik sambung dengan tujuan awalku. Rencana awalku;
bertemu-memberikan sesuatu-pulang bersama-melepas rindu berdua. Itu yang aku
pikirkan untuk mengorbankan tiga puluh menitku. Tapi tak satupun rencana itu
berjalan, mungkin hanya sampai di tahap bertemu pikirku. Bahkan sama sekali tak
menyentuh alas dari rencana melepas rindu berdua, kamu terlanjur berkata “aku
mau kerumah teman dulu.” Kata itu seperti ribuan ton beban yang langsung jatuh
di pundakku, tak sedikitkah kamu ingin tahu? Kurasa tidak, kamu malah berlalu,
dan meninggalkanku dibawah lampu kota malam itu.
Kurasa tak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya,
aku yang sok – sokan ingin memberi kejutan, malah terkejut akibat reaksimu kala
itu. Terlalu biasa, sehingga aku tak bisa menebaknya. Kamu tak sepenuhnya
salah, mungkin harus kubilang dulu sebelumnya bahwa aku ingin bertemu. Tapi apa
daya? Setiap aku berkata begitu, entah kenapa banyak sekali faktor yang
menghalangi. Selalu aku, yang mengucap ingin bertemu. Tak pernah aku dengar
sekalipun kata itu keluar dari mulutmu. Apa sebegitu tak diharapkannya aku?
Sekali lagi ini bukan salahmu, hanya aku yang
tak diharapkan, datang pada waktu dan tempat yang salah. Untuk kesekian kali,
dan bodohnya kulakukan berulang kali
0 comments:
Post a Comment