Hujan Rintik

Friday, January 3, 2014


            Malam ini hujan rintik – rintik kali ini. Aku sedang melakukan giliran atau mungkin kegiatanku dalam menunggu. Sengaja aku biarkan untuk menunggu dibawah lampu kota, yang warnanya remang – remang romantis menurutku. 

Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Tiga puluh menit berlalu.. kita belum sampai pada titik temu. Tak pernah terpikirkan sekalipun, aku habiskan tiga puluh menitku untuk sekedar menunggu (dalam konteks sebenarnya). 

 Sampai pada akhirnya, entah di menit ke berapa titik temu mulai mempertemukan kita. Kamu datang dari arah belakang dan aku melihatnya. Sesegera aku siapkan segala yang terbaik, untuk melihat reaksimu kala itu. Aku memutuskan untuk menyimpanya di kantong jaket sebelah kiri ku, niatnya jika reaksinya sesuai dengan yang diharapkan, aku akan langsung memberikan. Tapi, perkiraanku selalu salah. Dia yang nampak biasa, malah bertanya “sedang apa disini?” sedikit tersenyum tak puas aku melanjutkan alasanku yang entah darimana datangnya, yang sama sekali tak punya titik sambung dengan tujuan awalku. Rencana awalku; bertemu-memberikan sesuatu-pulang bersama-melepas rindu berdua. Itu yang aku pikirkan untuk mengorbankan tiga puluh menitku. Tapi tak satupun rencana itu berjalan, mungkin hanya sampai di tahap bertemu pikirku. Bahkan sama sekali tak menyentuh alas dari rencana melepas rindu berdua, kamu terlanjur berkata “aku mau kerumah teman dulu.” Kata itu seperti ribuan ton beban yang langsung jatuh di pundakku, tak sedikitkah kamu ingin tahu? Kurasa tidak, kamu malah berlalu, dan meninggalkanku dibawah lampu kota malam itu.

Kurasa tak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya, aku yang sok – sokan ingin memberi kejutan, malah terkejut akibat reaksimu kala itu. Terlalu biasa, sehingga aku tak bisa menebaknya. Kamu tak sepenuhnya salah, mungkin harus kubilang dulu sebelumnya bahwa aku ingin bertemu. Tapi apa daya? Setiap aku berkata begitu, entah kenapa banyak sekali faktor yang menghalangi. Selalu aku, yang mengucap ingin bertemu. Tak pernah aku dengar sekalipun kata itu keluar dari mulutmu. Apa sebegitu tak diharapkannya aku? 

Sekali lagi ini bukan salahmu, hanya aku yang tak diharapkan, datang pada waktu dan tempat yang salah. Untuk kesekian kali, dan bodohnya kulakukan berulang kali

0 comments:

Post a Comment