Sudah #2

Friday, January 3, 2014


            “Hai langit!” Kamu datang, rupanya bawa teman; hujan.

            Sudah lama aku tidak sadar akan keberadaannya. Hujan yang selama ini aku puja, sempat tersisihkan karena pikiranku tersita oleh sesuatu. Walaupun komponen itu tetap ada, tetap saja separuh pikiranku; untukmu.

            Aku sempat bersyukur, saat kita bertemu, hujan selalu hadir disela – sela kita. Mendinginkan tangan yang saling tak menghangatkan. Lambat laun, keadaan menghancurkan kita. Pertemuan semakin berjumlah jarang akibatnya. Kita dibuat jauh, dan tak punya waktu bersama.

            Entah ini salah siapa, aku tak bisa menyalahkan salah satu dari kita. Mau menyalahkan keadaan? Dia bisa apa? Dia hanya datang secara tak disengaja. Walau kadang ada keadaan yang disengaja, tapi hal itu tak termasuk hitungan. Lalu, mau menyalahkan tuhan? Aku bisa dikutuk olehnya. Sudah diberi karunia, masih mengeluh saja.

            Keadaan makin menjauhkan kita, aku yang terlalu cepat menyerah dan marah, semakin terhasut olehnya. Dan untuk semua itu, kamu yang jadi korbannya. Kali ini aku baru sadar, bahwa penyesalan memang datangnya belakangan.

            Penyesalanku begitu besar, sampai – sampai aku harus merelakanmu pergi dibawa keadaan itu. Tanpa bisa apa – apa, aku hanya meratapi dan meratapi lagi, hasil perbuatanku sendiri.

            Rasanya pahit juga, dipisahkan ketika sedang sayang – sayangnya. Bukan sayang yang berdasarkan pelukan, atau ciuman. Tapi yang dari hati, walau aku belum terlalu mengerti apa itu cinta sejati. 

Hah.. Tulisan ini makin dibiarkan malah makin memperlihatkan bahwa aku tua, yasudah, kali ini aku sudahi saja. Diawali dengan perkenalan, pacaran, lalu perpisahan, aku meminta maaf sebesar yang aku bisa, atas perbuatanku yang menjadikanmu korban kemarahanku. Dan aku harap masih akan ada ‘pengulangan’ setelah kamu diberikan waktu istirahat oleh tuhan.

Hujan Rintik


            Malam ini hujan rintik – rintik kali ini. Aku sedang melakukan giliran atau mungkin kegiatanku dalam menunggu. Sengaja aku biarkan untuk menunggu dibawah lampu kota, yang warnanya remang – remang romantis menurutku. 

Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Tiga puluh menit berlalu.. kita belum sampai pada titik temu. Tak pernah terpikirkan sekalipun, aku habiskan tiga puluh menitku untuk sekedar menunggu (dalam konteks sebenarnya). 

 Sampai pada akhirnya, entah di menit ke berapa titik temu mulai mempertemukan kita. Kamu datang dari arah belakang dan aku melihatnya. Sesegera aku siapkan segala yang terbaik, untuk melihat reaksimu kala itu. Aku memutuskan untuk menyimpanya di kantong jaket sebelah kiri ku, niatnya jika reaksinya sesuai dengan yang diharapkan, aku akan langsung memberikan. Tapi, perkiraanku selalu salah. Dia yang nampak biasa, malah bertanya “sedang apa disini?” sedikit tersenyum tak puas aku melanjutkan alasanku yang entah darimana datangnya, yang sama sekali tak punya titik sambung dengan tujuan awalku. Rencana awalku; bertemu-memberikan sesuatu-pulang bersama-melepas rindu berdua. Itu yang aku pikirkan untuk mengorbankan tiga puluh menitku. Tapi tak satupun rencana itu berjalan, mungkin hanya sampai di tahap bertemu pikirku. Bahkan sama sekali tak menyentuh alas dari rencana melepas rindu berdua, kamu terlanjur berkata “aku mau kerumah teman dulu.” Kata itu seperti ribuan ton beban yang langsung jatuh di pundakku, tak sedikitkah kamu ingin tahu? Kurasa tidak, kamu malah berlalu, dan meninggalkanku dibawah lampu kota malam itu.

Kurasa tak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya, aku yang sok – sokan ingin memberi kejutan, malah terkejut akibat reaksimu kala itu. Terlalu biasa, sehingga aku tak bisa menebaknya. Kamu tak sepenuhnya salah, mungkin harus kubilang dulu sebelumnya bahwa aku ingin bertemu. Tapi apa daya? Setiap aku berkata begitu, entah kenapa banyak sekali faktor yang menghalangi. Selalu aku, yang mengucap ingin bertemu. Tak pernah aku dengar sekalipun kata itu keluar dari mulutmu. Apa sebegitu tak diharapkannya aku? 

Sekali lagi ini bukan salahmu, hanya aku yang tak diharapkan, datang pada waktu dan tempat yang salah. Untuk kesekian kali, dan bodohnya kulakukan berulang kali

Analogi Ku Sendiri


            Aku mengerti saat salah dilakukan, maaf tak selalu mampir untuk memaklumi. Aku juga mengerti saat salah dilakukan berulang kali, kesempatan yang lain untuk memulai kembali tak selalu janji untuk datang hadir lagi. Tapi, bukankah Tuhan mengajarkan makhluknya untuk saling memahami? Bukankah orang – orang bilang tak ada manusia sempurna yang selalu baik kelakuannya?
            Kali ini, salahku juga yang terlalu bermain emosi. Perasaan yang aku punya terlalu besar, sehingga tak bisa ku bendung lagi. Sulit untuk mengatakannya, aku hanya akan berusaha menggambarkannya melalui analogi ku sendiri.
            Orang – orang bilang; kalau mencintai seseorang jangan dicintai terlalu besar. Karena hanya akan menyebabkan perpisahan karena cinta itu sendiri. Ibarat kamu yang begitu menyukai pantai, pasti tak akan lekang dari pasirnya bukan? Saat memegang pasir itu yang kita ibaratkan. Saat memegang pasir, jangan dengan cara mengambilnya bulat – bulat lalu mengepalkan tangan. Hanya serpihan kecil yang akan di dapat. Tapi, buka dengan lebar tangan yang kamu punya, sendokkan pasir didalam ruang yang kamu buat itu, maka pasir yang tetap disana akan sangat banyak dibanding percobaan pertama. 
Begitu juga yang terjadi saat mencintai seseorang..
Aku belajar dari cerita pasir ini. Aku juga banyak belajar dari hubunganku dengan gadis yang satu itu. Aku terlalu mencintai, dan mengenggammu terlalu erat. Bahkan untuk sekedar memberimu ruang untuk bernafas pun tak aku lakukan.
Harusnya aku tak pernah termakan rasa, karena saat berlebihan, bukan jaminan untuk kita bisa mengontrolnya. Tapi, kalau tidak menggunakkan rasa, bagaimana kamu meng-iyakan kalau itu cinta?
            Lalu, menurut kalian yang mana yang benar? Mencintai dengan rasa, atau membiarkannya tanpa tau kejelasan; itu cinta atau apa?