Saat air mata sudah jadi tabu, buatku. Rasanya sakit, saat dimana rasa
sedang sendiri dan saat air mata enggan keluar dari kelopaknya.. pernahkah
kalian rasakan itu? Itu yang sedang terjadi pada kelopak ini. Kelopak yang
terus memperlihatkan guratan bahagia dalam setiap kedipan di kedua bolah
matanya. aku sedang tidak bahagia kata bola mata. Dia sudah tidak tahan
menahan air mata, sudah terlalu membendung didalamnya katanya.
Tapi, sekali lagi. Kelopak itu terus
menutupinya, menutupi kesedihannya dengan guratan bahagianya. Entah maksudnya
apa, mungkin dia hanya tidak ingin bola mata bersedih karena selepas
ditinggalkan objek kesayangannya? Dia sudah tidak bisa melihat objek
kesayangannya lagi, dikarnakan objek itu telah pergi bersama objek lainnya. Bola
mata itu terus melihat kearah mereka. Sembari memutar kembali kaset kenangan
usang bersama objek kesayangannya, dia terus menahan sedih karnanya. Air
matanya makin membendung malam ini, seakan tak kuasa menahannya, dia
terus meminta izin pada kelopak untuk mengeluarkannya. Agar tidak sakit didalam
katanya..
Akhirnya malam ini dia diizinkan olehnya. Air matanya bisa keluar,
bersama dinginnya malam selepas kepergian objek kesayangannya, air matanya kian
turun membasahi tiap langkah sepi sendirinya. Dia terus memutar kenangan itu
dalam benaknya, rasanya bahagia yah saat disana, saat aku bisa lihat kamu sepenuhnya… katanya.
Tapi, kenangan itu tiba – tiba tertutup. Kelopak yang menutupnya rupanya, dia
menutupnya karena segan melihat air mata tak henti keluar dari bola mata. Lalu
timbul satu pertanyaan darinya. “seberharga itukah objek itu, sampai kamu
merasa sangat kehilangannya?”.
Bola mata pun menjawab “tidak, bukan kepergiannya yang aku tangisi malam ini. Yang aku tangisi adalah rindu akan kenangan bersamanya, aku merindukannya malam ini, dan sejak malam – malam sebelumnya. Aku menangis karna aku tahu, aku tak bisa apa – apa lagi buatnya.” Perlahan kelopak membukanya, dan membiarkan bola mata mengingat kenangan itu kembali dalam ingatannya. Ditemani malam yang sepi, dia membasahi kenangannya dengan air mata dan membuatnya semakin segar terasa.
Bola mata pun menjawab “tidak, bukan kepergiannya yang aku tangisi malam ini. Yang aku tangisi adalah rindu akan kenangan bersamanya, aku merindukannya malam ini, dan sejak malam – malam sebelumnya. Aku menangis karna aku tahu, aku tak bisa apa – apa lagi buatnya.” Perlahan kelopak membukanya, dan membiarkan bola mata mengingat kenangan itu kembali dalam ingatannya. Ditemani malam yang sepi, dia membasahi kenangannya dengan air mata dan membuatnya semakin segar terasa.
Karena saat dimana kita rindu, bukan mengeluh
yang kita perbanyak. Tapi, kenangan akan orang tersebut yang harus kita
perbanyak putar kembali. Biarkan kenangan itu berputar, mengulang semua
kejadian sejak awal pertama jumpa. Walau air mata yang akan keluar hasilnya,
itu bukan masalah selama bisa mengingat dia. Mungkin itulah bayaran yang
sepadan, saat rindu kepada seseorang yang bukan lagi milik kita.
0 comments:
Post a Comment