Tuhan, sekarang
apalagi?
Bukan manusia namanya
kalau sedang jatuh tidak lari ke Tuhan.
Bukan manusia pula
namanya jika saat senang tidak pernah menoleh Tuhannya.
Aku pernah merasakan
itu..
Sampai sekarang pun
mungkin masih begitu.
Banyak celotehku
padamu tentang pentingnya sebuah penghargaan.
Tanpa aku sadari aku
jarang, bahkan mungkin tidak pernah memberimu penghargaan.
Begini yah, yang
namanya tidak dihargai?
Rasanya aneh Tuhan..
Bukannya aku ingin
dihargai, bukan.. Aku cuma ingin agar orang itu mengerti kalau aku mengupayakan
kita kembali.
Sekali ini saja Tuhan,
sampaikan. Kalau aku, sayang dia.
Aku percaya keajaiban
dan mukjizat. Beri satu keajaibanmu agar aku bisa mengulangnya kembali.
Aku ingin kisah itu
diulang.
Saat kita pertama
bertemu, aku tidak pernah memimpikan datangnya hari seindah itu.
Aku sayang kamu.
Aku mungkin penghambar
cinta. Tapi, saat sama kamu entah kenapa rasa itu muncul lagi..
Aku ingin rasa itu
lagi, tak perlu instan.
Semua bisa berjalan
pelan – pelan seiring denting jam, asal rasa yang ditimbulkannya pekat.
Ya, malam ini aku
mengerti.
Rasaku hilang bersama
perpisahan.
Aku, butuh kamu lagi.
Tuhan, malam ini aku
resmi menghampirimu, terserah padamu untuk merangkulku atau hanya mendengarkan
celotehanku.
Aku ingin dihargai.
Walau itu hanya sekedar ucapan basa basi.
Terima kasih selama
ini. Aku janji aku gaakan lari lagi. Tuhan percaya kan?
0 comments:
Post a Comment